PENDAFTARAN PROGRAM TARUNA

Senin, 28 Februari 2011

Ummat Yang Gering



Oleh: Rohmadi Ibnu Saib*)

Sudah menjadi takdir Allah ummat islam belakangan ini menjadi pusat perhatian, menjadi branding immage juga, misalnya; banyak lembaga bisnis menggunakan tambahan istilah syari’ah. Sudah menjadi nasib ummat islam juga jika akhir-akhir ini islam menjadi obyek kajian, obyek penelitian, dan yang tak kalah seru islam sekarang bahkan sering dijadikan obyek fitnah, misalnya istilah teroris selalu dikaitkan dengan islam.
Apa lantas yang menarik untuk kita kaji? Menurut saya yang saat ini menjadi menarik untuk kita kaji adalah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitabnya “Sunan Abi Dawud” no 3745, beliau bersabda: “Aku menghawatirkan ummat ini kelak akan menjadi pusat yang dikerumuni oleh orang banyak, sebagaimana sebuah makanan di dalam nampan yang dikerumuni oleh orang yang akan memakannya.” Maka salah seorang bertanya: “Apakah pada saat itu jumlah kami sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab:” Tidak bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, seperti banyaknya jumlah buih di lautan.” Beliau melanjutkan:”Sungguh (pada saat itu) Allah mencabut rasa takut (segan) dari dada musuh-musuh kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan di dalam dada kalian rasa wahn.” Salah seorang kemudian menyahut: “Wahai Rasulullah, apakah yang dinaksud dengan wahn itu?” Rasulullah SAW pun menjawab: “Wahn adalah cinta dunia dan takut mati.”
Sabda Rasulullah tersebut sangat menarik untuk kita kaji dengan seksama agar kita mendapat pelajaran. Pertama, pertanyaan yang mungkin menggelayuti pikiran kita, kapankah kejadian (masa) itu terjadi? Menurut saya masa itu adalah sekarang ini. Lihatlah bagaimana bengisnya tentara Israel laknatullah alaihim, meluluhlantakkan bumi jihad Palestina, betapa beraninya mereka melakukan itu. Apakah saat mereka menyerang palestina jumlah muslim di dunia sedikit? Tidak. Bahkan sangat banyak, tapi mohon maaf meminjam istilah Rasulullah, jumlah mereka banyak namun seperti ghutsa’ (buih). Lalu apakah ada di antara kaum muslimin yang terkena penyakit wahn? Banyak. Bahkan sedikit sekali yang mau melawan sikap hubbub dun-ya (cinta dunia) dengan memberikan sumbangan materinya untuk muslimin Palestina. Sedangkan sebagian hartawan lebih suka melakukan gambling dengan memanfaatkan harta sebagai sarana kampanye politiknya sebagai Calon Anggota Legislatif. Lebih parah lagi sebagian menuduh partai yang melakukan aksi solidaritas untuk muslim Palestina dengan tuduhan bahwa mereka melakukan kampanye terselubung, na’udzubillahi minzalik. ‘Ainul hasud la yandzuru illa al-Khotho’.
Kedua, betapa saat ini islam dan muslimin menjadi obyek “kerumunan” oleh kaum non islam. Apa buktinya? Jika kita cermati buku “The Clash of Civilization and the Remaking of World Older” Samuel P. Huntington menempatkan Islam sebagai salah satu peradaban di antara 8 peradan yang lain dan menjadi “ancaman” bagi semua pemegang peradaban selain Islam. Dengan menempatkan Islam sebagai ancaman, mereka memprediksikan kebangkitan Islam kembali memimpin dunia, sebagaimana mereka dahulu pernah berjaya. Sebagai efek sampingnya, Islam menjadi pusat perhatian dan obyek kajian sekaligus sasaran tembak. Ketika mereka menempatkan Islam sebagai ancaman, mereka melakukan banyak cara untuk meruntuhkan Islam, baik dari luar maupun dalam Islam sendiri.
Serangan dari luar Islam, sebagian saat ini sudah mulai terasa sangat menyusahkan perkembangan Islam, misalnya NARKOBA dan free seks yang saat ini menjangkiti pemuda dan pemudi Islam, padahal mereka adalah generasi penopang tegaknya kembali peradaban Islam 20 hingga 30 tahun ke depan. Lucunya ummat Islam tidak merasa terancam. Mereka sebagiannya adalah penganjur atau mungkin lebih enaknya sebagai “calo” program penghancuran Islam dari luar.
Serangan dari dalam yang cukup menyedihkan adalah ketika kita melongok ke dunia politik di Indonesia masa sekarang. Hanya didorong oleh semangat kebebasan berdemokrasi, mereka merelakan perpecahan di internal umat Islam. Banyaknya partai baik yang berasas Islam, maupun yang berbasis masa Islam, atau pun yang Nasionalis, sebenarnya mereka semua memposisikan diri sebagai partai atau lokasi pengkotak-kotakan umat Islam.
Pertanyaannya jika memang mereka memiliki tujuan yang sama, mengapa tidak bisa bersatu? Jika bisa bersatu di Parlemen, mengapa terhadap kebijakan yang memihak kepada masalah Islam mereka mungkir (nylimur) dengan mengatasnamakan demokrasi bukan milik Islam saja? Bahkan pendapat saya ini, menurut sebagian teman adalah satu kelompok tersendiri. Inilah realitas umat islam, jumlahnya banyak namun seperti banyaknya buih dilaut, mudah diombang-ambing dan dicerai beraikan oleh yang lain.
Intinya penyakit wahn telah menjangkiti ummat Nabi Muhammad SAW yang pada hari senin 12 Rabi’ul awwal 1430 bertepatan dengan 09 Maret 2009 kemaren diperingati oleh sebagian ummat Islam Indonesia dengan berbagai macam model, ada yang khataman Al-Qur’an dan ada yang pengajian (tabligh akbar) dan macam-macam. Rasanya pengobatan tidak cukup dengan khataman sehari selesai, atau pengajian dengan mengundang muballigh kondang, sebab jika itu obatnya tentu ummat ini sudah sembuh dari penyakit wahn sejak dulu kala, sebab acara khataman dan tabligh akbar seperti itu sudah lama sekali kita lakukan, akan tetapi kadang hasilnya nihil. Umat ini masih saja sakit wahn.
Inilah pekerjaan rumah (PR) bersama ummat dan segala komponen yang ada di dalamnya. Menyehatkan ummat pasca perayaan maulid Nabi, dengan kembali kepada pemikiran, prilaku dan pola hidup yang sesuai dengan yang disunnahkan Nabi kita tercinta Muhammad SAW, bukan menambah kerumitannya dengan melakukan hal-hal yang jauh dari menyembuhkan ummat ini dari cinta dunia dan takut mati. Wallahu a’lam bish-showab.

Rohmadi Ibnu Saib adalah Direktur Pondok Tahfizhul Qur’an Ahmad Dahlan Ponorogo, Staff Pengajar Pesantren Darut Tilawah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar