Oleh: Rohmadi Ibnu Saib[1]
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (1) إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (2) إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (3) إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا (4) إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا (5)
(1) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (2) Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur [antara benih lelaki dengan perempuan] yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat. (3) Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (4) Sesungguhnya kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. (5) Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kâfûr [suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya].
ORIENTASI HIDUP MANUSIA
Pada awal surat ini (ayat 1-5) Allah SWT menerangkan keadaan manusia dari sebelum, disaat dan setelah penciptaannya[2]. Perjalanan ‘bakal calon’ manusia itu melalui suatu waktu dari sebuah masa (yang waktu itu manusia belum wujud, belum bisa disebut nama dan belum diketahui apa yang akan terjadi padanya kecuali Allah SwT)[3].
Setelah itu Allah SWT menciptakan Adam AS dan dari Adam itu diciptakanlah pasanganya[4]. Adam dan istrinya merupakan manusia wujud yang diberi kemampuan untuk melakukan reproduksi keturunan (berupa anak laki-laki maupun perempuan)[5] dengan cara yang diajarkan Allah SwT kepadanya yaitu mencampurkan ‘benih’ manusia yang terkandung dalam air mani laki-laki (putih-kasar) dan perempuan (kekuningan-lembut)[6].
Percampuran air mani itu bukan merupakan sesuatu yang main-main (tanpa tujuan), bahkan sebaliknya, percampuran itu memiliki orientasi yang jelas dari Allah SwT, yaitu kelak manusia akan diuji dengan perintah dan larangan, kesusahan dan kesenangan juga kebaikan dan keburukan[7]. Menurut Ibnu Katsir, kata nabtaliihi itu semakna dengan surat Al-Mulk ayat 2[8].
Karena itulah Allah SwT, menjadikan manusia bisa mendengar dengan pendengaran dan melihat dengan penglihatan yang mana keduanya itu adalah ciptaan Allah SwT sebagai modal dasar manusia untuk menjalani ujian yang akan dibebankan pada dirinya.
Sampai di sini sudah mulai jelas pengarahan orientasi hidup manusia, yaitu menjalani ujian dari Allah SwT, dengan kata lain manusia hidup adalah untuk menghadapi ujian sehingga terungkaplah istilah bahwa hidup adalah ujian. Akan tetapi Allah Yang Maha Rahman tidak akan mendholimi manusia, maka Dia membekali manusia dengan dua potensi: yaitu pendengaran dan penglihatan. Setelah itu manusia dihadapkan pada ujian yang sesungguhnya, yaitu ujian untuk memilih jalan hidup[9]. Namun pada aslinya Allah SwT telah menunjuki manusia jalan yang benar (lurus), namun Allah SwT sepertinya memang jauh dari sikap memaksa, sehingga memberikan kesempatan kepada manusia untuk bersyukur dengan segala nikmat itu (terkhusus adalah nikmat pendengaran dan penglihatan) ataukah akan menjadi manusia yang kufur[10].
Sebagaimana juga dalam surat Al-Kahfi dan surat Asy-Syams, Allah SwT senantiasa membarengi kebebasan memilih itu dengan sebuah gambaran bagaimana jika manusia mengikuti jalan yang lurus dan bagaimana jika sebaliknya. Pun demikian dalam surat ini, Allah SwT juga mengiringinya dengan gambaran bahwa “ (4) Sesungguhnya kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. (5) Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman[11]) yang campurannya adalah air kâfûr”.
3 CIRI MEREKA YANG MENETAPI JALAN YANG LURUS
عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (6) يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7) وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9) إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (10)
(6) (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. (7) Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (8) Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (9) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (10) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
Air kâfûr itu tafsirannya adalah sebagaimana dalam ayat itu sendiri, “(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.[12]”
Nah, siapa saja yang termasuk orang yang mengambil jalan syukur sehingga mendapatkan minuman dengan gelas yang berisi air kâfûr itu? Mereka adalah (1) orang yang menunaikan nazar[13]; (2) orang yang takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana[14]. Karena takut, maka dia meninggalkan hal-hal yang dapat menyebabkan mereka masuk ke dalamnya, termasuk ke dalam hal itu adalah segala yang diharamkan Allah SwT (muharramat)[15]; (3) orang yang memberikan makanan yang disukainya[16] kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan[17] dengan 3 alasan dasar: (1) hanya mengharapkan keridhaan Allah; (2) tidak menghendaki balasan dan tidak pula (ucapan) terima kasih; (3) takut akan (azab) Allah pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam (karena sempit hatinya) penuh kesulitan (yang panjang).
KEINDAHAN SURGA
Adapun bagi mereka yang mengambil jalan lurus, mereka menuju surga dan mendapat jaminan dari Allah SWT. Surga adalah termasuk hal yang ghaib bagi kita saat ini, maka tiada banyak manfaat kita menerangkannya kecuali cukuplah memahami apa yang telah digambarkan oleh-Nya.
Namun sebelum lebih jauh membaca ayat tentang surga ini, perlu kita kita ketahui bersama bahwa meskipun di surga itu ada beberapa nama yang sama dengan nama-nama di dunia ini, namun demikian hal itu sama sekali tidaklah sama apa yang ada di dunia ini, bahkan lebih baik berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda bahwa kenikmatanya tiada pernah terlihat sebelumnya oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terdetik dalam hati manusia[18].
فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا (11) وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا (12) مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا (13) وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا (14) وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآَنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَ (15) قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا (16) وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا (17) عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا (18) وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا (19) وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا (20) عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا (21) إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا (22(
(11) Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu[19], dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (12). Dan dia memberi balasan kepada mereka Karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, (13). Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. (14). Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. (15). Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (16). (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang Telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. (17). Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (18). (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. (19). Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. (20). Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. (21) Mereka memakai Pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. (22). Sesungguhnya Ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).
PENEGUH KEIMANAN
Pada penghujung surat, Allah SWT menyampaikan tentang hal-hal yang dapat meneguhkan keimanan manusia agar mereka tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Al-Quran diturunkan berangsur-angsur juga dalam rangka meneguhkan keimanan itu, bahkan sebagian ayat turun adalah dalam rangka menjawab kerisauan hati dan pertanyaan kaum muslimin ketika itu yang hikmahnya masih berlaku sepanjang jaman.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ تَنْزِيلًا (23)
(23) Sesungguhnya kami Telah menurunkan Al Quran[20] kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur[21];
TARBIYAH RUHIYAH
Selanjutnya Allah menganjurkan agar manusia setelah mengetahui isi Al-Quran, agar senantiasa bersabar dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya; tidak boleh mengikuti jejak langkah orang-orang durjana juga orang-orang kafir[22]; agar senantiasa berdzikir (shalat) diwaktu pagi (subuh) dan petang (ashar)[23]; selalu mendirikan shalat lail dan bertasbih yang banyak;
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آَثِمًا أَوْ كَفُورًا (24) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (25) وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا (26)
(24) Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka; (25) Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang; (26) Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari;
Orang-orang kafir benar-benar tidak tahu diri
Kehidupan dunia sekarang ini (al-‘âjilah), merupakan tahapan menuju kehidupan akherat. Di akherat hanya ada dua tempat yaitu surga dan neraka. Bagaimana kondisi kehidupan pada masing-masing tempat itu telah dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran, dan tidaklah al-Quran itu diturunkan kecuali untuk menghindarkan manusia dari kesusahan di alam akherat (neraka). Seharusnya manusia memilih surga karena gambaran keindahannya benar-benar akan terjadi dan menjauhi amalan-amalan yang mengantaarkan mereka kepada neraka karena janji Allah tentang hal itu juga pasti.
Namun demikian, orang kafir tetaplah orang kafir. Mereka lebih memilih kehidupan dunia. Padahal Allah telah menegakkan persendian mereka, menghidupkan mereka dan memberikan segala yang mereka butuhkan untuk hidup, mereka tetaplah menjadi orang kafir, padahal jika Allah menghendaki bisa saja mereka dilenyapkan oleh Allah dan diganti dengan manusia yang lain.
إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا (27) نَحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا (28)
(27) Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat); (28) Kami Telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila kami menghendaki, kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka;
Lagi-lagi Allah menahan murka-Nya dan mendahulukan rahmat-Nya[24]. Semua kejahatan mereka seakan-akan masih ditolelir oleh Allah SwT dan Dia lebih suka menjadikan semua itu sebagai peringatan dan pilihan hidup dengan konsekwensi yang berat di akherat.
إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا (29) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (30) يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (31)
(29) Sesungguhnya (ayat-ayat) Ini adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya; (30) Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah[25]. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana; (31) Dan memasukkan siapa yang dikehendakinya ke dalam rahmat-Nya (surga) dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.
REFERENSI:
Al-Quran al-Kariim dan terjemah Depag RI
Tafsir Ibnu Katsir
تفسير القرآن العظيم, المؤلف : أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي [ 700 -774 هـ ], المحقق : سامي بن محمد سلامة / الناشر : دار طيبة للنشر والتوزيع, الطبعة : الثانية 1420هـ - 1999 م, عدد الأجزاء : 8, مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
Tafsir Al-Qurthubi
تفسير القرطبي / القرطبي، شمس الدين (600 - 671هـ، 1204 - 1273م).
Tafsir Ibnu Abbas
الكتاب : تنوير المقباس من تفسير ابن عباس/ المؤلف : ينسب لابن عباس رضي الله عنهما/ مصدر الكتاب : موقع التفاسير
Tafsir As-Sa’dy
لكتاب : تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان /المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي /المحقق : عبد الرحمن بن معلا اللويحق / الناشر : مؤسسة الرسالة / الطبعة : الأولى 1420هـ -2000 م / عدد الأجزاء : 1 / مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
[1] Direktur Pondok Tahfizhul Qur’an Ahmad Dahlan Ponorogo. Makalah Disampaikan pada agenda Tarbiyah Tsaqafiyah di Masjid MIT Bhakti Ibu Kota Madiun, 21 Nopember 2010
[3] Di dalam Tafsir Ibnu Abbas (تنوير المقباس - (ج 2 / ص 119 disebutkan bahwa satu waktu dari suatu masa itu adalah selama 40 tahun, wallohu a’lam bish showab
[4] Lihat Surat An-Nisa’ (4) ayat 1
]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [
[5] Ibid.
[7] ibid
وقوله: { إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ } أي: بيناه له ووضحناه وبصرناه به، كقوله: { وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى} [فصلت : 17 ] ، وكقوله: { وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ } [ البلد : 10 ] ، أي: بينا له طريق الخير وطريق الشر. وهذا قول عكرمة، وعطية، وابن زيد، ومجاهد -في المشهور عنه-والجمهور
[10] Hal serupa juga pernah disampaikan oleh Allah SwT dalam surat Al-Kahfi (18): 28; dan surat Asy-Syams (91): 8 – 10
[11] Menurut Ibnu Abbas gelas itu berisi khamer. تنوير المقباس - (ج 2 / ص 119
والتفجير هو الإنباع، كما قال تعالى: { وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الأرْضِ يَنْبُوعًا } [الإسراء : 90] . وقال: { وَفَجَّرْنَا خِلالَهُمَا نَهَرًا } [الكهف : 33]
أي: يتعبدون لله فيما أوجبه عليهم من [فعل] الطاعات الواجبة بأصل الشرع، وما أوجبوه على أنفسهم بطريق النذر
قال ابن عباس: فاشيًا. وقال قتادة: استطار -والله-شرّ ذلك اليوم حتى مَلأ السماوات والأرض.
ويتركون المحرمات التي نهاهم عنها خيفة من سوء الحساب يوم المعاد، وهو اليوم الذي شره مستطير، أي: منتشر عام على الناس إلا من رَحِمَ الله و في تفسير السعدي - (ج 1 / ص 901 قيل: أي: منتشرا فاشيا، فخافوا أن ينالهم شره، فتركوا كل سبب موجب لذلك
[16] Menurut As-Sa’dy (تفسير السعدي - (ج 1 / ص 901), makanan itu adalah makanan yang sangat disukainya namun dia berikan karena kecintaan mereka kepada Allah dan berharap kebaikan dari-Nya, dan menurut Ibnu Abbas (تنوير المقباس - (ج 2 / ص 119), hal itu karena jumlahnya yang sebenarnya tidak mencukupi karena sedikit bahkan dia sendiri bernafsu untuk memakannya, namun dia lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri.
وأما الأسير: فقال سعيد بن جبير، والحسن، والضحاك: الأسير: من أهل القبلة. وقال ابن عباس: كان أسراؤهم يومئذ مشركين. ويشهد لهذا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر أصحابه يوم بدر أن يكرموا الأسارى، فكانوا يقدمونهم على أنفسهم عند الغداء، وهكذا قال سعيد بن جبير، وعطاء، والحس، وقتادة
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ }فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ {
[19] Kesusahan di neraka diantaranya disebutkan Allah dalam surat An-Nisa’ (4): 56 & An-Naba’ (78): 23-25
[20] تفسير السعدي - (ج 1 / ص 901)
فيه الوعد والوعيد وبيان كل ما يحتاجه العباد، وفيه الأمر بالقيام بأوامره وشرائعه أتم القيام، والسعي في تنفيذها، والصبر على ذلك.
[22] Lihat Surat Al-Ahzab (33) : ayat 1
[23] Ibnu Abbas (تنوير المقباس - (ج 2 / ص 120 menyatakan bahwa shalat itu adalah shalat Fajar, dhuhur dan ashar (غدوة وعشياً يعني صلاة الفجر والظهر والعصر), sedangkan menurut As-Sa’dy (تفسير السعدي - (ج 1 / ص 901 adalah shalat wajib dan sunnah beserta dzikir, tasbih, tahlil dan takbir di waktu-waktu itu (أي: أول النهار وآخره، فدخل في ذلك، الصلوات [ ص 903 ] المكتوبات وما يتبعها من النوافل، والذكر، والتسبيح، والتهليل، والتكبير في هذه الأوقات
[24] تفسير القرطبي - (ج 8 / ص 323
وقال الكلبي: " الكلمة " أن الله أخر هذه الامة فلا يهلكهم بالعذاب في الدنيا إلى يوم القيامة، فلولا هذا التأخير لقضي بينهم بنزول العذاب أو بإقامة الساعة.
[25] إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [[القصص/56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar