Saudara seiman, Anda tentu masih ingat dengan firman Alloh SWT berikut:
17. Sesungguhnya hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, 18. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, 19. Dan dibukalah langit, Maka terdapatlah beberapa pintu, 20. Dan dijalankanlah gunung-gunung Maka menjadi fatamorganalah ia.
Inilah kejadian yang mereka (orang-orang kafir) perselisihkan itu? Yakni kejadian mengenai hari pemutus (yaumul fashl). Mengapa dikatakan sebagai hari pemutus? Sebab hari kiamat itu memutuskan antara manusia dengan kesenangannya, antara ibu dengan anak-anaknya, antara kawan dengan karibnya, dan segalanya akan berpisah. Hari yang mereka perselisihkan itu adalah hari kiamat, dimana manusia diputus hubungannya dengan sanak kerabatnya. Pada hari itu tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak. Gambaran ayat berikut kiranya lebih detil menggambarkan hal itu:
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)
33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), 34. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, 35. Dari ibu dan bapaknya, 36. Dari istri dan anak-anaknya.37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
PASCA KIAMAT
Allah SWT membagi keadaan manusia setelah terjadinya kiamat menjadi dua bagian: yaitu penduduk neraka dan penduduk surga dengan berbagai kondisi masing-masing. Adapun mengenai neraka Allah SWT menyatakan:
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا (21) لِلطَّاغِينَ مَآَبًا (22) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (25) جَزَاءً وِفَاقًا (26) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا (27) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّابًا (28) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا (29) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا (30)
21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, 22. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, 23. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, 24. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, 25. Selain air yang mendidih dan nanah, 26. Sebagai pambalasan yang setimpal. 27. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, 28. Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguh- sungguhnya. 29. Dan segala sesuatu Telah kami catat dalam suatu kitab, 30. Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.
Alloh SWT, menyatakan bahwa di dalam neraka jahannam itu ada tempat untuk mengintai, siapa yang diintai? Yang diintai adalah mereka yang ingkar, karena memang neraka itu disiapkan untuk mereka yang ingkar. Orang yang ingkar kepada Allah SWT, menempati neraka bukan dalam waktu yang singkat, akan tetapi sangat lama bahkan kita tidak dikhabari berapa batasan lamanya, Allah SWT hanya menyatakan dalam waktu yang sangat lama.
Enakkah di neraka? Jawabnya, tentu saja tidak enak, bahkan sangat tidak enak. Bayangkan betapa menderitanya, jika seseorang disekap di dalam ruang yang sangat panas, yaitu 3 kali dipanaskan dengan ukuran waktu masing-masing adalah 1.000 tahun, demikian dalam hadits disebutkan. Bagi penduduk neraka itu tidak pernah merasakan sejuk, bahkan sekedar untuk minum saja tiada persediaan kecuali timah panas dan nanah. Tentu saja Anda juga setuju bahwa keduanya itu (timah panas dan nanah) bukanlah pilihan yang pantas dipilih. Namun mau bagaimana lagi? Jelas mereka tidak dapat mengelak dari pilihan itu.
Akan tetapi, ketahuilah oleh kita semua, bahwa yang demikian itu telah menjadi ketetapan Alloh SWT, sebagai balasan atas perbuatan manusia yang jahat ketika di dunia. Jika mereka di dunia ini merasa nyaman dengan kelalaian, kemaksiatan, kedhaliman, kemungkaran, keharaman dan berbagai model kekufuran, maka dalam pesan ayat ini tersirat kata “puaska-puaskanlah oleh kalian, karena balasan kalian itu bukan sekarang, melainkan di neraka.”
Para penghuni neraka itu, ketika masih di dunia dikhabari oleh para rasululloh mengenai hari pembalasan, mereka mengabaikan dan menganggap itu tidak akan terjadi, bahkan memusuhi mereka yang menyampaikan kebenaran dan menuduhnya dengan tuduhan “pendusta”. Alasan tuduhan itu adalah mereka (para rasul dan da’i) menyatakan sesuatu yang menurut akal manusia tidak rasional, karena memang neraka dan surga itu tidak nyata dalam bentuk wujud kasat mata. Padahal, apa yang mereka anggap tidak masuk akal itu, dalam kaca mata keimanan sangat-sangat masuk akal dan logis. Orang-orang yang ingkar, tidak akan mendapat tambahan melainkan siksa dan tidak akan mendapat tambahan hiburan melainkan pernyataan “rasakanlah oleh kalian, kami tidak akan menambah kecuali adzab.”
KONDISI SURGA
Lalu bagaimanakah keadaan mereka yang disurga? Menarikkah untuk ditukar dengan kesenangan dunia? Hanya imanlah yang dapat mengarahkan hati manusia tertarik pada surga, dan hanya kekufuran yang menutupi manusia dari ketertarikan kepada surga. Alloh SWT menggambarkan surga sebagai berikut:
31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, 32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, 33. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya, 34. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). 35. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. 36. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, 37. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. 38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang Telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. 39. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. 40. Sesungguhnya kami Telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang Telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah".
Allah SWT pada ayat 31 menyebutkan bahwa bagi orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, padahal yang dimaksud dengan kemenangan itu adalah surga. Mengapa Allah SWT menggunakan kata kemenangan untuk menunjukkan surga?
Allah SWT sepertinya ingin memvisualisasikan keadaan manusia di surga. Dia ingin menunjukkan bahwa sikap perilaku dan mental ahli surga kelak adalah sikap perilaku dan mental pemenang bukan pecundang. Seorang pemenang, akan menikmati berbagai fasilitas yang tidak dimiliki mereka yang kalah dan terhina.
Allah SWT Maha Mengetahui keadaan manusia di dunia, mereka yang beriman seakan-akan terselimuti dengan kekalahan. Gambaran kekalahan itu terwujud dalam keterbatasan orang beriman dalam menikmati aneka ragam fasilitas yang ada di dunia. Mereka yang beriman seakan terbatasi oleh aturan (syariat), sehingga karena ketaatan mereka kepada syariat, sekilas dipandang oleh kelompok yang lain sebagai kekalahan. Padahal pandangan itu akan terbalik dengan kenyataan di akherat, bahwa mereka yang bertaqwa akan mendapatkan kemenangan yang sebebar-benarnya, yaitu surga. Ayat ini memotovasi orang yang beriman, bahwa “jangan hawatir sebab kemenanganmu ada pada kehidupan akherat”.
Allah SWT menceritakan keadaan surga (yaitu) terdapat kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta.
Bayangan kenikmatan itu tergambar dari betapa nyamannya hidup ini, ketika kehidupan itu dikelilingi kebun-kebun buah yang tiada pernah sepi dari buahnya, kesejukan dan kesegaran udara sangat memanjakan. Jika hawa udara itu menyejukkan, suasana nyaman, keinginan untuk memetik buah pasti terlaksana tanpa halangan, lalu kenikmatan apa lagi yang akan dicari manusia?
Mungkin ada yang menjawab, kenikmatan seksual yang dibutuhkan! Tentu saja, dan tidak perlu hawatir. Mengapa demikian? Sebab Alloh SWT menyediakan gadis-gadis yang usianya sebaya, semuanya jahiz (tersedia) bagi mereka yang bertakwa. Coba lihat sekali lagi, ketersediaan gadis-gadis yang sebaya itu bukan hanya satu melainkan jamak (banyak) sekali. Bahkan saat itu usia mereka (penghuni surga dan gadis-gadis itu sebaya).
Mungkin juga ada yang mengatakan bahwa masih ada yang kurang, yaitu arak yang memabukkan. Ada buah-buahan yang siap dimakan, bahkan bisa memetiknya langsung di kebun, ada gadis-gadis yang sebaya siap melayani tanpa hawatir merasa letih dan kotor. Ada arak yang memnuhi gelas-gelas yang tersedia. Mereka yang dahulunya ketika di dunia menahan diri dari meminum khomer, saat di surga tiada lagi larangan untuk memuaskan diri dengannya. Sungguh suatu paket layanan kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari yang pernah dirasakannya di dunia.
Lagi pula mereka tidak akan pernah mendengar perkataan yang sia-sia. Mereka tidak akan mendengarkan ungkapan yang menyakitkan hati, semua penduduk surga berperangai menyejukkan dan menggembirakan. Di dunia, mereka pernah ditipu, pernah dilecehkan, diperolok, dihardik dan berbagai perkataan yang tidak menyenangkan, tetapi berbeda dengan di surga. Di sana mereka tidak akan mendapati keudstaan dan ucapan menyakitkan. Yang demikian itu adalah balasan dari Tuhanmu, sebagai pemberian yang banyak.
Dia yang member balasan keutamaan yang banyak itu adalah Allah SWT, Yang Maha Memiliki langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya. Dia adalah Ar-Rahman (Yang Maha Luas Kasih Sayang-Nya). Semua yang berhadapan dengan-Nya tidak akan dapat berkata-kata karena sangat kagum dan hormatnya. Ini kekuasaan Allah SWT yang tidak terbantah, bahkan semua yang berhadapan dengan-Nya hanya bisa diam terpaku, tunduk dan patuh.
Pada hari itu malaikat Jibril dan malaikat yang lain berdiri berbaris. Mereka tidak memiliki ungkapan kecuali mereka yang diijinkan untuk berbicara di hadapan Ar-Rahman, inilah wujud kekuasaan Allah SWT, bahkan ketika ada yang diijinkan berbicara oleh Ar-Rahman itu, maka tiada kata selain “benar” atau kalimat yang membenarkan apa saja yang disampaikan oleh Allah SWT, karena memang Allah SWT lebih tahu mengenai apapun juga.
Demikianlah, sesungguhnya hari itu pasti terjadi. Dan Allah SWT pun sangat berwibawa dengan menyatakan :”Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” Siapa yang menghendaki hari akherat itu dan tentu saja yang menghendaki masuk surga dan pertemuan dengan Allah, niscaya dia akan menempuh jalan taubat (kembali) kepada Tuhannya (Allah SWT).
Alloh SWT dengan sangat gagah dan penuh kemenangan menyatakan :”Sesungguhnya kami Telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat.” Betul. Manusia benar-benar telah diperingatkan, bahkan juga tentang hari manusia melihat apa yang Telah diperbuat oleh kedua tangannya. Tetapi celakalah orang kafir, sebab mereka kelak akan menyesal dan hanya bisa berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah". Selamat merenungkan nasib di akherat kelak, semoga kita semua selamat. Amin.
*) Ditulis oleh: Rohmadi Ibn Saib
di sampaikan pada Kajian ULUL ALBAB, Muneng Balong Ponorogo, 31 Mei 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar