PENDAFTARAN PROGRAM TARUNA

Senin, 28 Februari 2011

Saling bertanya tentang berita besar[1]




Pendahuluan
Fenomena saling bertanya tentang suatu hal adalah kebiasaan manusia. Ada pertanyaan dengan nada ingin tahu dan ada pula pertanyaan dengan nada mengejek. Kedua jenis pertanyaan itu pun pernah beredar bahkan booming di antara orang kafir masa Rasulullah. Kejadian itu oleh Allah SWT diabadikan dalam Al-Qur’an surat An-Naba’.
Ketika Rasulullah diutus oleh Allah SWT dengan membawa wahyu tentang kehidupan akherat, sebagian dari mereka ada yang bertanya dengan nada ingin tahu: “benarkah demikian? Apakah nenek moyang kita dulu juga menyatakan yang demikian?” dan lain sebagainya. Namun ada pula yang bertanya dengan nada mengejek: “benarkah demikian? Apakah hal itu bukan rekayasa Muhammad agar dihormati?” dan berbagai pertanyaan penuh keraguan dan ejekan yang lain.
Allah SWT hendak mengajarkan kepada manusia sesuatu yang agung dalam hidup ini, maka Dia mengabarkan fenomena itu kepada Muhammad SAW, agar diajarkan kepada ummatnya. Surat An-Naba’ masih ada dan akan tetap ada sehingga kita bisa menjadikannya sebagai sebuah rujukan kongkret dan wahyu “dokumen riil” atas kejadian masa lalu yang tidak terbantahkan.

Pertanyaan dan janji kepastian
Allah SWT berfirman dalam kalimat tanya, yang bukan berarti Dia tidak tahu melainkan untuk penegasan:
§Ntã tbqä9uä!$|¡tFtƒ ÇÊÈ
 "Tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya? "
Ç`tã Î*t6¨Z9$# ÉOÏàyèø9$# ÇËÈ Ï%©!$# ö/ãf ÏmÏù tbqàÿÎ=tGøƒèC ÇÌÈ
ÇTentang berita yang besar. Yang mereka perselisihkan tentang ini”.
Orang-orang kafir kala itu mempertanyakan turunnya Al-Qur’an yang menjadi wahyu agung, sebab al-Qur’an menjawab semua tipu daya yang mereka lancarkan kepada Muhammad SAW, Al-Qur’an juga menjadi fenomena agung karena manusia tidak mampu menandingi keindahan sastranya, padahal di antara mereka ratusan orang ahli syair tersohor. Selain al-Qur’an berita yang saling mereka tanyakan adalah hari kebangkitan. Hari kebangkitan yang dijanjikan kepada manusia dalam Al-Qu’an itu mereka ingkari, mereka enggan menghadapi hari kiamat, mereka takut mati dan menginginkan “kesenangan dunia” dengan gelimang maksiat dan kedzaliman yang mereka jalani saat itu tidak akan dibalas oleh Allah SWT.
Mereka berselisih paham tentang dua hal tersebut. Di antara mereka ada yang menuduh Al-Qur’an adalah bohong dan hari kebangkitan tidak akan menimpa mereka. Ada pula yang berkata: “Al-Qur’an adalah kumpulan syair dan Muhammad juga mengigau tentang hari kebangkitan” dan berbagai ejekan yang lain.
Allah SWT membantah apa yang mereka tuduhkan itu, bahwa semua yang mereka tuduhkan tentang Muhammad dan Al-Qur’an adalah tidak benar, mereka kelak akan tahu kebenarannya. Semua yang mereka tuduhkan tentang hari kebangkitan pun juga tidak tidak benar, kelak mereka akan tahu kebenaran janji Allah SWT dan mereka benar-benar akan merasakan akibat pengingkaran mereka. Allah SWT berfirman:
žxx. tbqçHs>÷èuy ÇÍÈ ¢OèO žxx. tbqçHs>÷èuy ÇÎÈ
“Sekali-kali tidak demikian; kelak mereka akan mengetahui, Kemudian sekali-kali tidak demikian; kelak mereka (benar-benar) akan mengetahui”.
Rububiyah Allah SWT
Selanjutnya Allah SWT menunjukkan rububiyah-Nya dalam kekuasaan dan penciptaan, agar manusia segera menyadari bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah dzat Yang Maha Kuasa tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak-Nya dan agar manusia sadar bahwa dirinya adalah lemah dan sangat tergantung kepada Allah SWT, Dia berfirman:
óOs9r& È@yèøgwU uÚöF{$# #Y»ygÏB ÇÏÈ tA$t7Ågø:$#ur #YŠ$s?÷rr& ÇÐÈ ö/ä3»oYø)n=yzur %[`ºurør& ÇÑÈ
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?; Dan gunung-gunung sebagai pasak?; Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan”.

Apa jadinya jika bumi tidak diciptakan dalam bentuk hamparan, melainkan tegak berdiri seperti tembok? Pernahkah kita terbayang tentang gunung yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai pasak bumi, sehingga Allah SWT menjadikan bagian yang menonjol itu hanya 1/3 dari keseluruhan struktur gunung? Pernahkah kita berfikir apa jadinya jika bumi yang tidak dipasak oleh gunung? Tentu saja banyak pulau yang hilang dari permukaan.
Lalu pernahkah pula kita berfikir bahwa Allah SWT dengan kasih sayang-Nya menciptakan manusia dalam keadaan berpasang-pasangan? Apa jadinya jika dahulu Adam diciptakan tanpa pasangannya, akankah ada kita? Atau jika Allah berkehendak mematikan seluruh laki-laki dari muka bumi dan membiarkan perempuan hidup, akankah bisa berkembang keturunannya? Terlaknatlah para pelaku homoseks dan para pendukungnya, merekalah sebodoh-bodoh manusia.
$uZù=yèy_ur ö/ä3tBöqtR $Y?$t7ß ÇÒÈ $uZù=yèy_ur Ÿ@ø©9$# $U$t7Ï9 ÇÊÉÈ $uZù=yèy_ur u$pk¨]9$# $V©$yètB ÇÊÊÈ
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat; Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian; Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”

Luar biasa kekuasaan Allah! Dia mengatur tubuh kita sedemikian rupa sehingga dengan perhitungan yang matang dan tubuh kitapun tunduk pada aturan itu. Ketika malam tiba, kita ingin istirahat dan tubuh kita tunduk pada Allah SWT. Malam jadi pakaian, sebab ia gelap menutupi jagat, layaknya pakaian yang menutupi tubuh manusia. Sebaliknya siang ditandai dengan terbitnya matahari yang tunduk pada Allah SWT, sehingga bumi terang dan tibalah saat mencari penghidupan. Subhanallah, nikmat mana lagikah yang hendak kita dustakan?
$uZøŠt^t/ur öNä3s%öqsù $Yèö7y #YŠ#yÏ© ÇÊËÈ $uZù=yèy_ur %[`#uŽÅ  %[`$¨dur ÇÊÌÈ $uZø9tRr&ur z`ÏB ÏNºuŽÅÇ÷èßJø9$# [ä!$tB %[`$¯gwR ÇÊÍÈ ylÌ÷ãZÏj9 ¾ÏmÎ/ ${7ym $Y?$t7tRur ÇÊÎÈ BM»¨Zy_ur $¸ù$xÿø9r& ÇÊÏÈ
 “Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh; Dan Kami jadikan matahari sebagai pelita yang amat terang; Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah; Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan; Dan kebun-kebun yang lebat.”

Betapa komposisi kehidupan ini sangat tepat karena Allah SWT sangat cermat menciptakannya. Langit diciptakan dalam tujuh lapis yang kokoh menyelimuti bumi tanpa tiang penyangga dan matahari bersinar sangat terang dengan kadar panas yang cukup bagi manusia.
Dahulu kita mendapat pelajaran tentang siklus air hujan. Siapa yang mengatur semua? Pengaturnya adalah Allah SWT. Dialah yang menciptakannya dalam bentuk yang teratur. Siklus bukan rekayasa manusia melainkan karya Allah SWT, yaitu, dari awan keluar air menjadi hujan, dari hujan meresap ke bumi dan dari itulah biji-bijian tumbuh menjadi kebun-kebun yang lebat, sedangkan air yang lainnya (baik dari tumbuhan maupun bukan) mengalir ke sungai, dari sungai mengalir ke laut, dari laut yang disinari oleh matahari (ciptaan Allah SWT) menguap menjadi awan. Subhanallah.
Inilah hari pemutus.
Benar-benar fenomenal karya Allah SWT dan jika kita mau berfikir tentang ciptaan-Nya tentu kita akan tersungkur sujud mengakui kebodohan dan kelemahan kita. Akan tetapi orang kafir tidak demikian, mereka enggan melakukannya karena mata hati mereka telah tertutup oleh kesombongan dan hawa nafsu. Allah SWT pun menampakkan gambaran tentang hari kiamat, agar manusia mau beriman dan bersiap-siap menghadapinya. Dia berfirman:
¨¨bÎ) tPöqtƒ È@óÁxÿø9$# tb%x. $\F»s)ÏB ÇÊÐÈ tPöqtƒ ãxÿZムÎû ÍqÁ9$# tbqè?ù'tFsù %[`#uqøùr& ÇÊÑÈ ÏMysÏGèùur âä!$yJ¡¡9$# ôMtR%s3sù $\/ºuqö/r& ÇÊÒÈ ÏMysÏGèùur âä!$yJ¡¡9$# ôMtR%s3sù $\/ºuqö/r& ÇÊÒÈ ÏNuŽÉißur ãA$t7Ågø:$# ôMtR%s3sù $¹/#uŽ|  ÇËÉÈ ÏNuŽÉißur ãA$t7Ågø:$# ôMtR%s3sù $¹/#uŽ|  ÇËÉÈ
 “Sesungguhnya hari keputusan (kiamat) adalah suatu waktu yang ditetapkan; Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok; Dan dibukalah langit, Maka terdapatlah beberapa pintu; Dan gunung-gunung dijalankan, maka menjadi fatamorganalah ia”.
Pembaca yang budiman, maukah kita menghadapi kejadian itu? Tentu saja tidak. Kejadian itu waktunya telah menjadi ketetapan Allah SWT yang dirahasiakan untuk menguji siapa diantara manusia yang percaya pada-Nya dan siapa yang ingkar? Hari itu, sangkakala ditiup dengan kekuasaan Allah SWT, lalu manusia berkelompok-kelompok dalam keadaan ketakutan. Saat itu pula langit dibuka dan didalamnya terdapat pintu-pintu.
Dan yang lebih mengerikan lagi, saat itu gunung-gunung yang demikian kokoh menurut perhitungan manusia, ternyata oleh Allah SWT diperintahkan untuk berjalan dan tunduklah gunung kepada-Nya, sehingga gunung-gunung itu seperti fatamorgana dipikiran manusia (antara percaya dan tidak), tetapi semua telah terjadi.
Hari itu benar-benar merupakan hari pemutus. Manusia yang dahulunya ingkar hari itu dia baru percaya bahwa Allah SWT itu benar dan menepati janji-Nya, namun kondisi telah berubah, penyesalan tiada berguna. Tiada lagi ampunan bagi mereka yang ingkar. Hari itu benar-benar memutuskan hubungan antara manusia dengan semua amalnya. Antara orang tua dengan anak-anaknya. Antara anak-anak dengan orang tuanya. Antara manusia dengan aktifitasnya.
Bahkan antara orang baik dengan kebaikannya dan orang jahat dengan kejahatannya. Semua telah berakhir semua telah terputus. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan kecuali apabila dia memiliki simpanan amal saleh. Tak ada lagi yang dapat bergembira seperti gembiranya orang kafir saat menghina dan mencaci-maki Rasulullah, semua telah berubah menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan. Namun Allah SWT tidak pernah mengingkari janji-Nya. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar.

Penutup.
Saudara seiman, adakah kita menjadi manusia sebagaimana orang kafir dahulu yang masih bertanya-tanya tentang kepastian janji Allah SWT soal hari pembalasan? Ataukah kita masih belum percaya dengan Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW? Janganlah demikian, sebab penyesalan adalah selalu terjadi setelah perbuatan. Iman adalah percaya tanpa tanda tanya.
Di dalam surat An-Naba’ ini, dengan sangat lengkap Allah SWT memaparkan kejadian-kejadian manusia: dikala manusia masih hidup, ketika mereka diberi peringatan oleh Rasulullah, ketika di antara mereka ada yang ingkar, lalu Allah SWT mengingatkan manusia akan kelemahannya, kemudian peringatan akan kejadian hari kiamat kelak.
Di dalamnya ada juga berita tentang balasan di akherat, yakni ketika manusia di masukkan ke dalam neraka apa yang terjadi? Dan ketika mereka masuk surga apa yang terjadi? Insya Allah bersambung.
Ditulis oleh: Rohmadi Ibn Saib. Staff Pengajar Pesantren Darut Tilawah (PEDATI) Ponorogo


[1] Disampaikan pada kajian rutin ULUL ALBAB, 17 Mei 2010, Desa Muneng Kec. Balong, Ponorogo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar