PENDAFTARAN PROGRAM TARUNA

Kamis, 17 Februari 2011

Lailatul Qadar Buat Si Meyla

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, lonceng besar di sebelah utara alun-alun selalu bergema saat pukul 00.00 tiba. Udara semilir, angin sepoi membawa aura persimpangan malam dengan pagi. Aku bangkit dari peraduan, mengucek-2 mata sebelum ke kamar mandi. Niatku bulat, ke masjid, itulah yang ada dalam benak. Kata pak Kyai malam ini malam ganjil, malam yang memiliki kemungkinan besar diturunkannya lailatul qadar. Malam yang sangat aku rindukan, guna menghapus dosa-dosa yang ter’kadung’ jadi langganan.

Aku nekad. Dinginnya air di kolah terpaksa membuat kulit ari mendesir dan bulu kuduk merinding. Aku langkahkan kaki menuju masjid dengan agak aku keraskan ucapan ”bismillah, yaa Allah!”  Mantab hati menuju upaya mendekatkan diri pada ilahi.
Malam ini benar-benar sepi. Tak kuduga kedatanganku bukan yang pertama seperti biasanya. Di dalam masjid sudah ada seorang bocah mungil dengan posisi setengah telungkup di pojok masjid. Melihat panjang rambutnya, mestinya dia seorang bocah perempuan. Mungkin dia tertidur lelap, tanpa selimut, tanpa mukena. Usianya yang masih belia nampak dari posturnya yang kecil dan raut wajahnya yang polos. ”Dia ini siapa?”pikirku sepintas lalu penuh selidik. ”Ah, paling-paling anak gelandangan yang kemalaman,” tepisku dalam hati mencari jawaban sendiri.
Aku langsung mengarah ke tempat shalat dekat mimbar. Karena merasa sendiri, meskipun ada anak kecil itu, ”pasti dia sedang tidur” pikirku, tanpa takut mengganggu orang lain, aku keraskan takbiratul ikram. Bacaan shalat yang lain pun juga demikian.
Setelah mendapat beberapa raka’at, aku diam bertafakur sambil berdo’a: ”Allahumma innaka ’afuwwun karim, tuhibbul ’afwa fa’fu ’anna – Yaa Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, engkau suka memaafkan, maka aku mohon maafkanlah kami.”
Ketika lantunan do’a itu hampir selesai, sayup-sayup terdengar suara anak kecil, berbisik, menghiba kepada Allah dengan do’a yang sangat aneh. Anak kecil yang mendahului kehadiranku, dan aku kira tidur itu, ternyata membaca do’a.
”Yaa Allah, aku masih kecil, belum memiliki harta untuk membeli lailatul qadar-Mu. Aku mohon berikan lailatul qadar dengan cuma-cuma Yaa Allah. Aku hamba-Mu yang lemah, merintih dihadapan-Mu, menghiba kehadirat-Mu, memohon dengan segenap perasaanku, akan lailatul qadar yang dapat mengampuniku dari dosa-dosaku. Katanya engkau punya malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaa Allah andai aku punya harta dan engkau benar-benar hendak menjualnya, aku akan membelinya Yaa Allah.” Suara itu terdiam.
Dengan khusyu’ aku turut mengaminkan do’a anak kecil itu, meski hatiku masih dipenuhi dengan tanda tanya keheranan atas permintaan anak kecil itu. ”Apa sebenarnya yang dimaksud anak itu?” tanya batin ini tiada bisa dicegah, meski tidak terlontar dalam kata-kata.
Do’anya terhenti, kini berubah tangis yang aku dengar. Rupanya dia menangis. Semakin jelas tangisnya bukan hanya isakan, tapi tangis yang memecah kesunyian. Dia menangis dengan melantunkan do’a meski terbata-bata:
”Yaa Robbi, aku tidak punya uang untuk membeli lailatul qadar-Mu, aku tidak punya amalan untuk mendapatkan .... jatah malam seribu bulan itu dari-Mu, tapi aku punya .... Yaa Allah, aku punya .... aku punya cinta untuk keluargaku. Yaa Robbi, aku mohon berikan kepada keluargaku satu malam saja, malam yang engkau janjikan, salaamun hiya hatta mathla’il fajr, malam penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.
Keherananku terhadap anak itu semakin tidak dapat aku bendung. Akhirnya aku paksakan diri menghampirinya. Aku nyalakan lampu masjid, sehingga seluruh sudut tersinari dengan terang. Aku kira dia tidak pakai mukena, ternyata dia bermukena warna hitam dengan pakaian bawah sarung batik.
”Nak, siapa namamu? Siapa orang tuamu?” tanyaku tidak sabar ingin mengetahui identitas anak kecil ini.
”Namaku Meyla, aku tidak mau bilang siapa orang tuaku, rumahku RT 12.” jawabnya
”Lho memangnya kenapa?” tanyaku bertambah heran
”Karena aku malu dengan keluargaku, aku butuh lailatul qadar, pak. Apa aku boleh mendapatkannya?” dia bertanya dengan meyeka air mata bekas tangisnya tadi.
”Yaa boleh saja, tapi untuk apa kamu mau lailatul qadar? Kamukan masih kecil.” tanyaku ingin tau
”Aku mau berikan untuk orang tuaku, agar kami mendapatkan ketenteraman walau satu malam saja. Orang tuaku selalu bertengkar. Kadang mereka saling pukul, aku takut, mereka saling mencaci-maki, aku sering kena marah, kena pukul, adikku juga. Aku tidak ingin mereka bertengkar. Aku ingin rumahku damai. Apa bapak bisa membantuku?” tuturnya penuh harap.
”Duh, bagaimana aku akan membantu anak ini?” pikirku dalam hati, sambil terus memandangi anak kecil yang perkataannya halus ini. ”Sedangkan aku sendiri sering bertengkar dengan istriku, duhh ..., Yaa Rabbi, Yaa Rabbi!” mataku berkaca-kaca.
”Aku harusnya lebih pantas meminta ketenteraman untuk keluargaku dari pada anak ini. Sebab aku kepala keluarga. Anak kecil ini peduli pada keluarganya, sedangkan aku hanya berdo’a untuk diriku sendiri. Aku sering kasar terhadap anak-istriku. Aku sering lupa pada orang tuaku. Yaa Allah, inikah sindiran-Mu?” akupun tersujud. ”Yaa Allah dia lebih pantas mendapatkan lailatul qadar-Mu” gumamku dalam batin tanpa menghiraukan tatapan mata keheranan dari anak kecil yang duduk di sampingku.

*) Ditulis Oleh: Rohmadi Edo Gawa adalah Koordinator PENA MUDA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar